Gasing ajari keseimbangan hidup

Gasing ajari keseimbangan hidup

Gasing ajari keseimbangan hidup

No Comments on Gasing ajari keseimbangan hidup

Gasing Mungkin permainan yang terbuat dari kayu itu kini sudah asing didengar. Dulu saat tahun 70’an permainan ini masih banyak ditemui dimainkan oleh anak-anak dan dewasa. Biasanya mereka berkumpul di lapangan dan memainkan gasing secara seorangan ataupun berkelompok.

 

Dari sejarahnya, gasing semua daerah yang ada di wilayah kepulauan Indonesia umumnya memiliki permainan ini. Itulah sebabnya, bangsa Indonesia yang masyarakatnya multietnik, terdiri dari berbagai suku bangsa mengenal berbagi jenis permainan gasing. Daerah asal permainan ini dan penyebarannya secara kronologis di wilayah nusantara belum diketahui secara pasti.

 

Data sejarah berupa naskah-naskah kuno maupun data arkeologi, baik artefak maupun non artefak tentang permainan ini belum ditemukan, hingga sulit untuk mengungkap sejarah dan penyebaran permainan gasing di wilayah nusantara secara pasti.

 

Sehingga banyak orang menyebut bahwa permainan ini adalah permainan turun temurun. Permainan ini sempat booming sekitar tahun 2005. Saat itu, diadakan festival gasing dan permainan ini jadi ramai dimainkan.

 

“Tapi belakangan ini sudah mulai berkurang karena kalah dengan permainan modern seperti play station (PS) dan game online,” kata pendiri Komunitas Gasing Indonesia (KGI) Endi Aras, Sabtu (31/10/2015).

 

Dulu gasing sangat mudah ditemui di sekolah-sekolah dasar. Kini hanya tidak semua penjual di SD menjual gasing. Padahal harganya terhitung murah. “Kalau yang di sekolah-sekolah sekitar Rp 1.000- 7.500,” katanya.

 

Cara memainkan gasing sangat mudah. Pertama-tama si pemain memegang gasing tersebut pada tangan kiri. Kemudian tangan kanan si pemain melilitkan seutas tali pada gasing dimulai dari bagian paksi hingga bagian badan gasing secara kuat.

 

Sementara di beberapa wilayah Indonesia, lilitan tali dimulai pada bagian kepala gasing hingga bagian badan. Gasing yang telah dililit tali tersebut dipindahkan ke tangan kanan, selanjutnya dilempar secara keras kepermukaan tanah yang datar.

 

“Kalau diadu, gasing yang jatuh atau kena pukul itu yang kalah. Sedangkan gasing yang mutar lama itulah yang menang,” ceritanya.

 

Permainan gasing sejatinya memiliki arti filosofi tersendiri menurut Endi. Ketika gasing harus berputar dalam waktu yang lama maka diperlukan keseimbangan. “Sama saja dengan hidup. Kalau seimbang jasmani dan rohani akan umur panjang,” ungkapnya.

 

Dalam berbagai permainan tradisional termasuk gasing, menurut Endi memiliki nilai kearifan lokal yang kental. Dimana permainan tradisional itu mempertemukan individu dengan individu lain sehingga terjalin komunikasi langsung yang dapat meningkatkan tali persaudaraan. Berbeda dengan permainan modern yang bisa dimainkan sendirian dengan media gadget.

 

“Ada nilai luhur dalam permainan tradisional ini. Misalnya kejujuran, kebersamaan, kesederhanaan, sportif dan taat aturan. Jika permainan ini punah maka nilai luhur itu pun hilang. Makanya kami ingin agar nilai tersebut tetap ada dalam masyarakat kita,” ungkapnya.

 

Secara umum dapat digambarkan bahwa gasing merupakan salah satu alat permainan yang dibuat dari kayu keras dengan bentuk badan bulat, bulat lonjong, jantung, piring terbang (pipih), kerucut, silinder dan bentuk-bentuk lainnya yang merupakan ciri khas kedaerahan dengan ukuran bervariasi, terdiri dari bagian kepala, bagian badan dan bagian kaki / paksi.

 

Bagian-bagian gasing tersebut, disetiap daerah Indonesia bervariasi. Ada gasing yang memiliki kepala dan leher, seperti gasing yang dijumpai di Ambon (Apiong). Sementara gasing Jakarta dan Jawa Barat tidak memiliki leher, melainkan hanya kepala. Demikian pula pada gasing Jakarta dan Jawa Barat, tampak secara jelas paksi (taji) yang dibuat dari paku atau logam, sementara pada gasing Natuna (propinsi kepulauan Riau), paksinya tidak tampak.

 

Secara umum gasing gasing dikelompokkan dalam tiga jenis. Yaitu gasing adu suara, gasing adu putar, dan gasing adu pukul/adu kekuatan. Di wilayah Jakarta dikenal jenis gasing adu suara yaitu gangsing, dan gasing adu pukul/kekuatan yang disebut panggal.

 

Keragaman jenis gasing dapat dijumpai pula di wilayah Jawa Barat, meliputi gasing kelangenan (gasing adu suara) dan gasing adu (gasing kolo dan gasing gandek). Sementara di wilayah Tanjungpinang dan sekitarnya (propinsi Kepulauan Riau), dikenal gasing penendin, penahan dan pemangkak.

 

“Sedangkan di Pulau Belakang Padang, Batam tepatnya di museum gasing hanya dikenal gasing jenis ori (penahan) dan gasing pemangkak atau pengacau. Kalau di Riau Daratan, dikenal jenis gasing jantung yang khusus diadu dalam pertandingan dan gasing beralik yang hanya dimainkan untuk hiburan atau hanya dipusingkan (diputar) saja. Di Bali dikenal gasing adu kekuatan, terdiri dari gasing penahan (Belek) dan gasing pemukul (gasing Gebug),” tutup Endi.

Sumber mandiripos.com, Minggu 01 November 2015

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.



Back to Top